KANJURUHAN

 

By Wikipedia : Stadion Kanjuruhan adalah sebuah stadion sepak bola yang terletak di Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Indonesia. Kapasitasnya berjumlah 30.000 penonton. Stadion ini merupakan kandang Arema FC yang bermain di Liga 1 dan Persekam Metro FC yang bermain di Liga 3.

 

Jumlah korban meninggal akibat kerusuhan di Stadion Kanjuruhan sampai saat ini mencapai 132 orang. Korban meninggal diduga karena terinjak hingga sesak napas usai aparat keamanan menembakkan gas air mata ke arah penonton yang berada di tribun stadion.

 

Sumber https://nasional.kompas.com/read/2022/10/12/15040811/2-komisioner-komnas-ham-hampir-menangis-saat-paparkan-investigasi-tragedi.
Penulis : Vitorio Mantalean

Editor : Aryo Putranto Saptohutomo

 

Saya hobi melihat dan bermain sepakbola, terutama menyaksikan pertandingan sepakbola. Juga pernah menyaksikan pertandingan bola lokal secara langsung dan layak untuk dinikmati.

 

Berkaca dengan kejadian di Kanjuruhan, saya melihat hasil rekaman dari video. Kejadian tersebut memperlihatkan identitas sepakbola kita. Mulai dari penyelenggaraan, para penonton, para pemain dan semua elemen. Saya melihat beberapa kejadian serupa mirip di Kanjuruhan, suporter mengekspresikan perasaannya dengan berbagai bentuk macam cara. Saya melihat hal tersebut lumrah terjadi pada superter sepakbola.

 

Penyebab meninggal :

Pertama kali melihat kejadian, saya langsung berfikir bahwa “ eh itu kan gas air mata,, kok di tembakin ke tribun yang padat penonton ya? Bisa napas g tuh?. Padahal secara teori manusia bisa meninggal ketika tidak ada oksigen masuk ke otak atau jantung selama 10 menit.. nah itu”. Begitu pikirku.

 

 Kedua, menurut beberapa sumber warta dan video dokumentasi, pintu keluar nomor 13 banyak menelan korban jiwa karena tidak terbuka maksimal untuk proses eakuasi. Para penonton berdesak-desakan dan lagi-lagi kehabisan oksigen. Tau sendiri kan yg pernah nonton konser di tengah lautan manusia,, apa itu berdesak-desakan, ngerinya kayak apa kalo banyak orang.

 

Hikmah dari kejadian ini bagi saya pribadi adalah, nyawa manusia tidak tergantikan oleh apapun. Lebih memanusiakan manusia. Saya akan menjadi pendidik yang mengingatkan siswa saya untuk memanusiakan manusia. Saling toleran terhadap sesama dan Respect.

Comments

  1. Memanusiakan manusia jadi ingat Munif Chatib, penulis buku "Sekolahnya Manusia"

    ReplyDelete
  2. Mungkin pak bay bisa bagi tips nih mengajar yang selalu mengajarkan hal "memanusiakan manusia"

    ReplyDelete
  3. Mendidiknya agar tidak hanya pintar urusan lapangan, tapi juga pintar memakai pemikirannya untuk menjadi manusia yang memanusiakan manusia ya pak guru

    ReplyDelete
  4. Tetap memanusiakan manusia dan tidak menuhankan selain tuhan

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Minggu ke Pantai Bondo visit Bu Mila dan Visit Bu Ima

Workshop SMKN 2 PGRI Kudus

Microteaching dengan guru SPSS